tidak terasa, seperempat hari kerja kemarin… saya dan teman-teman kantor saling curhat. menceritakan perkembangan buah hatinya masing-masing, karena kebetulan banyak teman sekantor yang masih seumuran dan baru mempunyai anak ataupun sedang menunggu kelahiran buah hatinya.
entah, siapa yang memulai… tapi obrolan-obrolan ringan muncul dengan sendirinya, padahal sebelumnya meeting dan “berantem” hebat
inti obrolan memang tidak pernah berpindah dari perkembangan si kecil. mengapa… apa… bagaimana… banyak sekali obrolan-obrolan yang keluar dengan sendirinya.
bukannya saling membanggakan perkembangan yang dialami oleh buah hati masing-masing, tetapi sebenarnya lebih menjurus kepada bagaimana cara mendidik yang benar dan bagaimana cara mensiasati perkembangan anak di dunia yang semakin berkembang ini.
yang paling saya ingat adalah pendapat seorang teman, yang menurut saya fifty-fifty antara setuju dengan tidak setuju… dia berpendapat, “pokoknya anakku nanti, ingin aku ajarkan hidup yang sederhana dan apa adanya seperti bapaknya dulu… dimulai dari ketika pulang kampung ke surabaya nanti, aku ajak dia naik kereta api ekonomi… biar tahu betapa susahnya bapaknya dulu ketika merantau ke dan dari jakarta…”
wuih… langsung semuanya diam. saling menoleh… “serius nih…???” Baca Lanjutannya…