Arsip Tag: sepeda

Sepeda Federal Street Cat Refresh!

Setelah proses repaint frame selesai, target terdekat untuk mempercantik penampilan dan menambah fungsi sepeda ini adalah memasang rak depan belakang serta fender roda.

Mungkin bagi sebagian orang, komponen ini tidak terlalu urgent.

Betul! Sangat betul! Pendapat ini tidak salah. Karena ini adalah pendapat yang sangat subyektif atau sesuai dengan sudut pandang pribadi tersebut.

Buat saya, rak depan dan belakang memang kurang begitu perlu. Tetapi untuk fender roda, ini yang perlu.

Saya sudah terlalu sering mendengar celotehan dari istri ketika pulang gowes, terutama saat selesai hujan. Pasti di area belakang baju atau celana bahkan di tas punggung, selalu ada bercak-bercak kotoran yang harus segera dicuci dan disikat.

Baca lebih lanjut

Motor pun Perlu (Wajib) Dipasang Kunci Ganda

Tanggal 3 Februari 2017 kemarin, memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada saya.

Alhamdulillah, pagi itu, saya bisa berangkat menunaikan sholat Shubuh berjamaah di masjid terdekat.

Sesampainya di halaman masjid, motor diparkir, berjejeran dengan motor lainnya dan segera masuk ke masjid untuk, sebisa mungkin, melakukan sholat fajar terlebih dahulu.

Baca lebih lanjut

Repaint Sepeda Federal Street Cat

Melanjutkan lagi tulisan sebelumnya…

Proses restorasi sepeda ini pun saya mulai dengan melakukan repaint frame, sesuai warna asli nya.

Dari hasil browsing, akhirnya ada penampakan brosur sepeda Federal jaman baheula, yang cukup lengkap.

Picture di atas sengaja saya crop di bagian Street Cat saja… Agar lebih menunjukkan keinginan saya untuk merestorasi sepeda ini. Baca lebih lanjut

Nostalgia dengan Sepeda Federal Street Cat

Setelah berpisah dengan Thrill Vanquish 3.0… di awal tahun 2017 ini, saya membawa sepeda masa kecil saya dari kampung halaman.

Kebetulan memang di kampung masih ada 2 sepeda legendaris (menurut saya), yaitu :

  • Sepeda Federal tipe Street Cat warna biru putih tahun pembelian 1988-89, yang di repaint kuning biru saat jadi maskot klub sepeda di tempat kerja bapak, yang menjadi penghuni gudang hampir 10 tahun.
  • Sepeda Diamond Back warna merah tahun 1990an. Tipenya lupa. Hanya ada tulisan Mountain F…. di sisa decal yang tertempel di framenya. Sepeda ini yang menemani saya berpetualang di masa kecil. DB merah ini sudah menjadi penghuni tetap gudang lebih dari 20 tahun (miris…).

Baca lebih lanjut

Sepenggal kisah di Asaka – Jepang #3

​Lanjutan tulisan sebelumnya.

Dan ternyata benar saudara-saudara. Busana atau outfit boleh keren ketika berangkat kerja. Pakai jas lengkap dengan dasinya. Sepatu mengkilat. Tas kulit didekapan tangan (tapi saat bersepeda, ya ditaruh keranjang depan).

Itu saya buktikan sendiri ketika melihat di kantor yang saya tuju. Pakai kemeja rapi, sepatu kulit… dan begitu sampai lobby, langsung absen dan menuju ke loker. Untuk apa… ya untuk ganti baju kerja. πŸ™‚

Lanjuttt….

Nah, ketika introduction team project beserta tugasnya, dimana yang presentasi adalah project leader dari jepang, busana nya memang standar perusahaan, tapi… mata ini memandang ke kepala nya.

Rambut gondrong… dan topi dibalik. Wuih… keren. Terlihat dia nyaman saja seperti itu dan rekan orang jepang yang lain juga tidak peduli. Yang penting adalah isi di dalam topi itu daripada penggunaan topi itu sendiri.

Dan, begitu project leadernya ini ngomong, yang lain mendengarkan tanpa ada kasak kusuk. Hening dan fokus ke satu orang tadi. Kondisi agak berbeda kalau boleh kita bandingkan dengan kondisi di lingkungan sekitar kita sendiri.

Yang sibuk mainan hape lah, sibuk ngemil lah bahkan sampai sibuk nguap karena ngantuk berat. πŸ™‚

Budaya mendengarkan dan menghargai orang lain saat bicara inilah yang menambah wawasan saya.

Betapa senangnya kita kalau lawan bicara kita menghargai pendapat kita.

Begitu pula sebaliknya. Akan sangat senang lawan bicara kita, kalau kita fokus dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Yakin lah, dengan kondisi seperti itu, komunikasi akan berjalan dengan baik. Miskomunikasi bisa diminimalkan. Debat kusir bisa dihindarkan. Dan diskusi bisa menghasilkan suatu keputusan atau kesepahaman yang sama baiknya buat semua.

Setuju ora son??

Sepenggal kisah di Asaka – Jepang #2

Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah budaya beda dan berjalan kaki di Jepang serta keutamaan menggunakan transportasi umum.

Terlepas sedang ada keperluan apa dan ke mana, selalu mengutamakan jalan kaki atau naik sepeda ke tempat tujuan atau ke tempat transportasi umum.

Seperti yang terlihat dari foto yang saya ambil ketika sedang berjalan kaki ke tempat kerja dan berpapasan dengan beberapa pengendara sepeda. Terlihat seorang laki-laki, memakai jas lengkap, sedang asyik mengayuh sepeda ke stasiun terdekat. Ndak pakai malu atau takut jas nya lusuh atau kotor. Bisa jadi, dia di tempat kerja akan berganti busana kerja yang diwajibkan oleh kantornya… who knows?

Sepenggal kisah di Asaka – Jepang #1

Tanggal 30 Oktober 2016 sampai 5 November 2016, alhamdulillah saya, bersama 12 rekan lain, berkesempatan mengunjungi negeri sakura, Jepang, dalam rangka keperluan dinas perusahaan.

Perjalanan menggunakan ANA , dari bandara Soetta – Tangerang ke bandara Haneda – Tokyo, ditempuh selama 06:59 jam dengan direct fly. Lumayan lama juga sih, meski sebenarnya tidak terlalu berasa.

Kenapa? Karena keberangkatan yang menjelang tengah malam, sekitar pukul 21:50, di tanggal 29 Oktober 2016. Ditinggal tidur sekitar 4 jam sudah cukup untuk mencharge energi, untuk menikmati entertainment system yang ada di pesawat. Sayang bro, film nya lumayan update πŸ™‚
Sesampai di bandara Haneda dan mengurus proses keimigrasian, ternyata ada 4 rekan satu yang tertahan di imigrasi, meskipun sudah menunjukkan invitation letter.

Dari 4 rekan ini, ada satu penyebab sepele yang membuat dia tertahan… Selain faktor bahasa yang sempat membuat miskomunikasi… Rekan saya ini memakai kaos bertulisan kanji, dan kudu tahu artinya apa, baru boleh keluar dari ruangan. Hahaha… Kampretos pokok nya.

Mungkin memang benar… petugas imigrasi nya butuh piknik πŸ™‚

Dan… Alhamdulillah, setelah 30 menit menunggu, kami semua bisa keluar dari bandar dan langsung menuju hotel di daerah Asaka, berdekatan dengan stasiun Asakadai.