santun dalam berkendara… nikmatnya

ketika kemarin, 14 februari 2011, mengurus perubahan KK alias kartu keluarga di kantor catatan sipil kota bogor, saya kok jadi trenyuh.

bukan karena antrian di kantor catatan sipil yang memang tidak pernah jelas ujungnya… bukan karena banyaknya PNS-PNS yang ikut-ikut masuk barisan, tapi langsung main sodok ngasih berkas ke temannya yang ada di dalam… bukan karena alur flow proses untuk mengurus pembuatan/perubahan KTP, KK dan lainnya, yang tidak ada atau tidak tersosialisasi dengan baik… bukan itu. tapi yang membuat saya trenyuh adalah terlihatnya arogansi atau ketidakpekaan dari para pengguna jalan.

meski saya sendiri merasakan enaknya kalau berpergian menggunakan mobil… tapi setahu saya (maaf… narsis dikit), ketika saya berkendara, saya akan mencoba berkendara secara santun. begitu juga kalau saya menggunakan sepeda motor. santun dalam artian bahwa saya menyadari posisi saya, baik itu posisi di lajur jalan atau posisi saya terhadap pengguna jalan yang lain atau pejalan kaki.

contoh paling sederhana, ketika saya akan berniat belok, saya usahakan lampu sein sudah menyala ketika mendekati jarak 30-50 meter (tergantung kondisi jalan). contoh lainnya, ketika melewati genangan air. pasti saya perhatikan kondisi kiri kanan kendaraan saya. ada pengguna jalan lain, terutama pejalan kaki atau tidak. kalaupun ada, kira-kira akan terkena cipratan air atau tidak ketika saya melintasinya.

eh… yang saya alami di sekitar kantor catatan sipil kota bogor benar-benar tidak masuk akal sehat saya.

ketika saya sedang berjalan… dan itupun di trotoar… untuk fotokopi KTP, saya melewati sebuah komplek ruko. di ruko tersebut memang cukup ramai dan banyak mobil yang parkir di area parkir ruko tersebut.

dan setelah selesai fotokopi, otomatis saya lewat ruko itu lagi. ketika akan melewati pintu masuk ke ruko, saya dikagetkan oleh bunyi klakson mobil. rupanya si empunya mobil ingin buru-buru parkir. jadi saya diminta berhenti dulu, biar si mobil bisa masuk terlebih dahulu ke area parkir.

lah yang bikin saya trenyuh… apa susahnya sih si mobil yang berhenti dulu. sudah kondisi siang hari (jam 13.30an)… panas… saya lagi jalan kaki… diminta nunggu si mobil lewat dulu, yang pastinya si empunya mobil duduk dengan nyaman sambil menikmati hembusan AC yang dingin dan (mungkin) alunan musik dari audionya.

kok ya segitunya ya…pengen rasanya sandal yang saya pakai, plus beberapa batu melayang mengenai bodi mobilnya. tapi alhamdulillah, saya masih bisa bersabar🙂 yang penting niat saya untuk mengurus perubahan KK bisa terlaksana hari itu juga, meski terjadi kesalahan pemanggilan nama saya oleh petugas. sampai berkali-kali nama saya dipanggil. cuma karena pengeras suaranya yang tidak terlalu jelas, saya jadi ragu kalau nama saya sedang disebut.

maklumlah… nama saya diawali huruf F… dan memang, siapa bilang orang sunda tidak bisa bilang (e)F… itu PITNAH!!!🙂

 

2 thoughts on “santun dalam berkendara… nikmatnya

  1. Kalau pengendara mobil dan motor punya etika di jalan sperti Anda, betapa nyamannya jalanan di Jakarta, Bogor, dan kota-kota besar lainnya. Tentu itu akan lebih nyaman lagi ditambah kondisi jalanan yang rapi-teratur-nonmacet. Duuuuh… kapan ya kondisi seperti itu tercapai. Rasanya mimpi yang berkepanjangan deh..🙂
    Bicara soal kesantunan berkendaraan, apa yang Anda tulis di atas juga berlaku di kota-kota kecil, misalnya Kota Mataram (NTB). Sebagaimana saya lihat di sana, karena jalanan di kota itu sepi, justru menambah kebringasan para pengendara, terutama kendaraan bermotor roda dua.
    Mengapa ya masyarakat Indonesia tidak bisa santun sedikit saja di jalanan? Sepertinya semua pengendara berprinsip, “Usrusan gue nomor satu; elo belakangan.”🙂

    Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://notulabahasa.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. betul masbro… dulu, awal-awal di jakarta, saya memang ikutan brangasan juga. tapi setelah berkeluarga dan tinggal di bogor… alhamdulillah perilaku berkendara saya mulai sedikit demi sedikit berubah. bayangan istri dan anak pasti muncul di kepala🙂🙂
    pengalaman saya di kota masa kecil saya… di ngawi… malah kebanyakan pada anteng-anteng semua. mungkin karena yang namanya ujian SIM, itu diwajibkan dan susah buat nembak SIM (dulu ya… sekarang gak tau deh). jadi sudah diantisipasi kalau empunya SIM memang benar-benar bisa membawa kendaraannya dengan baik.
    dan alhamdulillah, keluarga saya, terutama bapak selalu memberi pengarahan yang benar dalam berkendara. mungkin karena masa lalu beliau yang mengharuskan berubah seperti itu.

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s