curhat… mengajarkan balita untuk meminta maaf

perlukah si kecil, meski masih berumur balita, diajari untuk meminta maaf? kalau saya pribadi ditanya seperti itu, maka dengan lantang akan saya jawab… PERLU!!. karena, pengalaman pribadi saya, proses tumbuh kembang anak akan mencapai puncaknya atau bisa dibilanng golden age adalah ketika si kecil berusia 2 sampai 3 tahun.

nah, ketika dalam rentang usia ini, anak sudah diajari untuk bersosialisasi, maka kita juga harus mempersiapkan sedini mungkin untuk sikap-sikap si kecil untuk medukung langkah bersosialisasinya. contoh paling sederhana dan paling penting (imho) adalah rasa bertanggung jawab dan rasa untuk mengakui kesalahan.

saya yakin, semua anak balita pastilah pernah atau pasti berebut sesuatu dengan teman sepermainannya. contoh paling sederhana adalah berebut mainan. kalau sudah berebut, pasti ada konteks menang dan kalah di sini. dan yang pasti, pihak yang menang akan merasa tidak terjadi apa-apa, karena merasa itu adalah haknya. sedangkan pihak yang kalah… yah, minimal menangis dengan kencang🙂

nah bagaimana kalau berebut mainannya, di tempat permainan umum, misalnya di mall. pasti akan kikuk juga kan, ketika tahu anak kita berebut mainan dengan anak lain. iya kalau anak kita kalah, yang pastinya akan menangis… lah kalau menang? pastinya, kita sebagai orang tua, pasti langsung nyeletuk… “tidak boleh berebut ya, gantian. kan kasihan adik/kakaknya menangis. ayo minta maaf…”. eh… malah dengan cueknya, si kecil menjawab… “nggak…!!!”.

untuk mengantisipasi hal ini, saya pribadi, sudah melakukan “cuci otak” perihal permintaan maaf atau rasa tanggung jawab ini kepada buah hati saya. memang belum bisa memetik hasil secara langsung sih, tetapi minimal, usaha dari saya dan istri sudah saya lakukan sebaik mungkin.

berbagai cara sudah saya coba untuk membiasakan si kecil minta maaf. dan dari keseluruhan cara yang saya coba, pada intinya hanya ada 4 langkah utama, yaitu :

  1. perkenalkan sejak dini kepada anak balita. semakin cepat diajarkan, terutama pada usia emas (1-3 tahun), maka akan membantu membentuk karakter dan sikap si kecil ketika menghadapai masalah di kemudian hari.
  2. lakukan berulang-ulang. jangan bosan untuk mengajari si kecil sesuatu yang baik. lakukan setiap keterlibatannya dalam beraktifitas.
  3. contoh terbaik adalah sikap orang tua sehari-hari. kita sebagai orang tua juga harus bersikap seperti yang diajarkan kepada si kecil. atau pada intinya, jangan sampai munafik dengan perkataan kita sendiri.🙂
  4. selalu ingatkan kalau sang buah hati mulai terlihat “kendor”. selalu dukung dan beri semangat kepadanya untuk selalu belajar. ketika si kecil melihat kalau orangtuanya bersemangat, pasti si kecil aka termotivasi dengan sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s