curhat… sifat egosentris pada balita

alhamdulillah. perkembangan demi perkembangan dari si kecil semakin menggembirakan. celoteh-celoteh yang tidak kunjung berhenti dari mulutnya. nyanyian-nyanyian lucu yang tidak pernah bosan untuk diiramakan oleh mulut mungilnya. rengekan-rengekan manja yang pasti dikeluarkannya ketika melihat ayah-nya ini pulang… benar-benar bisa melepas penat dan letih yang selalu saya alami setiap pulang kerja🙂

respon yang sama keluar juga diperlihatkan oleh istri tercinta. melihat tingkah si kecil, kepenatan dan rasa capek selama mengurus rumah seharian, hilang seketika🙂

dan puncaknya terlihat ketika si kecil bersosialisasi dengan lingkungannya… terlihat sekali dominasi si kecil terhadap teman-temannya. rebut mainan sana… omel sini… atur sana… haduh!!! malah jadi bahan omongan tetangga, orangtua dari teman-teman si kecil. “ih… adik ara bawel yah… sok bijak banget… kok tidak mau berbagi yah”🙂

eh… si bocah malah, dengan suksesnya, terus saja berbuat seperti itu. “kakak… tidak boleh yah; jangan kakak… terbalik, dibenerin dulu yah; ara pinjem dong… pinjem kakak!; jangan disana… kesini dong…”

memang sih, teman-teman si kecil, rata-rata berumur 3-4 tahun, sedang si kecil masih berumur 2 tahun. so… seringnya teman-temannya mengalah. tapi seringkali lumayan menjengkelkan juga kalau sifat egosentris-nya muncul. yaitu sifat yang umum dialami oleh balita dalam fase pertumbuhannya. sifat yang inginnya selalu diperhatikan dan menang sendiri.

terlepas dari hal itu, sifat egosentris pada balita, haruslah diarahkan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. balita harus diberi arahan yang benar terhadap lingkungan dan pergaulannya. salah satunya adalah dengan cara penumbuhan sifat empati untuk meredam sifat egosentrisnya itu.

nah… pertanyaan berikutnya, bagaimana memunculkan sifat empati pada balita, dengan cara yang efektif???

sebenarnya itu pertanyaan saya juga sih🙂

cara termudah untuk menumbuhkan sifat empati adalah dengan membiasakan balita untuk bersimpati terlebih dahulu. sebagai ayahbunda, kita harus bisa memberi contoh bagaimana bersimpati dan mengontrol emosi kepada orang lain. kemudian mengajarkan untuk ikut merasakan atau membayangkan perasaan yang dialami oleh orang lain yang kita beri simpati.

dan setelah terbiasa bersimpati, secara tidak langsung, sifat empati itu akan muncul dengan perlahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s