CRP…

CRP…

semenjak akhir 2008 ampe sekarang… kata paling populer kalo lagi meeting di kantor adalah… CRP alias cost reduction program… hampir tiap kali meeting project… pasti yang didengungkan itu… “hitungan cost-nya bgimana??? budgetnya lewat nggak??? wah tu kegedean… kurangin dikit!!!”… hampir itu-itu aja yang nyampe di kuping 🙂

maklum sih… jaman lagi susah… herannya kok krisis global yang jadi kambing hitam… lha wong kambing yang hitam aja gak mikirin kok… palagi sapi lada hitam… wiiiihhh enak tuh… slluuuulurrrp!!! 🙂

sebenernya apa sih CRP??? kalo kepanjangannya sih rata-rata dah tau kan… cost reduction program. tapi maknanya apa… trus bedanya sama pemotongan biaya (Cut Cost)apa???

crp1

setelah tanya mr google… akhirnya dapet artikel dari PMMI (Persatuan Manajemen Mutu Indonesia) yang membahas secara umum perbedaan antara CRP dengan Cut Cost

berikut cuplikan artikelnya…

Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, tidaklah heran bila banyak pakar dan pebisnis yang mencari konsep, metode dan praktek-praktek yang paling tepat untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dalam menjalankan roda usahanya. Hal ini mendorong mereka untuk mulai menoleh pada konsep Cost Reduction Program atau CRP yang didengung-dengungkan sebagai program yang efektif dalam menciptakan efisiensi dan optimalisasi usaha. Apa sebenarnya CRP itu ? Bila hal ini ditanyakan kepada Jajaran Manajemen perusahaan, maka mereka pasti akan mengatakannya sebagai program pengurangan biaya (Cut Cost) di beberapa bagian kegiatan usaha, tanpa harus mengganggu kelancaran operasional/produksi.

Sasaran utama pengurangan biaya biasanya diterapkan pada sektor yang berhubungan dengan pelatihan atau pendidikan atau bahkan tunjangan kesejahteraan karyawan, tidak sedikit juga perusahaan yang melakukan penghematan dengan mengurangi mutu bahan baku atau kemasan, meskipun hal ini sudah pasti sangat riskan, karena bisa mengundang keluhan pelanggan.

Ya, sesungguhnya Cut Costs dapat dikategorikan sebagai tindakan yang termudah dan langsung terlihat hasilnya, yaitu biaya pengeluaran berkurang, tetapi cara ini juga dapat menjadi bumerang bagi perusahaan yang bersang-kutan.

Contohnya Cut Costs yang diterapkan pada biaya pelatihan/pendidikan karyawan, meskipun kelihatannya dapat mengurangi biaya, tetapi yang terjadi sesungguhnya adalah perusahaan sedang menciptakan SDM yang tidak bermutu yang secara simultan akan menyebabkan operasional perusahaan semakin tidak efisien.

Bahkan bila Cut Costs diterapkan pada bahan baku atau kemasan, secara singkat memang akan menghemat biaya, tetapi perlahan dan pasti perusahaan sedang menciptakan produk yang tidak bermutu dan jangan heran bila kemudian penjualan produk menurun karena ditinggalkan pelanggan.

Begitu juga halnya bila Cut Costs diterapkan pada biaya kesejahteraan karyawan, bisakah karyawan memahami kondisi ini ? Berapa lama karyawan sabar untuk tidak menuntut peningkatan kesejahteraan?

Lalu, apa bedanya dengan CRP ? Jangan pernah menganggap bahwa CRP hanya sekedar mengurangi atau memotong biaya, tetapi lebih dari itu, CRP merupakan program penghematan terpadu yang harus diprakarsai oleh Top Management, dengan tujuan untuk melaksanakan efisiensi dan optimalisasi, melalui perbaikan kinerja Quality Costs, agar mampu menciptakan Economic Value Added di semua sektor usaha, baik yang terlibat langsung dalam proses produksi maupun yang bersifat pendukung.

Maka dapatlah dikatakan bahwa melalui CRP, perusahaan dapat melakukan penghematan secara efektif, dengan risiko yang seminimal mungkin dan tanpa harus mengorbankan hak-hak karyawan dan stakeholders lainnya.

Sebelum membahas lebih dalam tentang CRP, ada baiknya bila mendapatkan pemahaman yang benar tentang konsep Quality Costs. Secara simpel, Quality Costs dapat diartikan sebagai suatu ukuran dari biaya-biaya yang secara spesifik berhubungan dengan tercapai atau tidaknya “mutu produk/jasa” sesuai standar mutu yang telah ditetapkan perusahaan atau dipesan khusus oleh pelanggan, atau bahkan sesuai dengan tuntutan pelanggan pada umumnya.

Termasuk di dalam arti “mutu produk/jasa” itu adalah spesifikasi material, proses, produk akhir, order pembelian, rekayasa disain, prosedur dan instruksi, standar industri, peraturan pemerintah dan berbagai hal lainnya yang dapat mempengaruhi produk/jasa akhir yang dihasilkan.

Bila dilakukan stratifikasi terhadap spesifikasi-spesifikasi tersebut maka Quality Costs merupakan total biaya yang timbul karena :

  1. Investasi untuk pencegahan terhadap kemungkinan spesifikasi/standar tidak terpenuhi.
  2. Memperkirakan (Appraising) produk/jasa yang sesuai dengan spesifikasi/standar.
  3. Kegagalan untuk mencapai spesifikasi atau standar yang telah ditetapkan.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa Quality Costs menggambarkan perbedaan antara biaya aktual (actual costs) dari produk/jasa itu sendiri dengan ”biaya yang bisa dikurangi ”(reduces costs) bila tidak ada kemungkinan deviasi standar, produk gagal atau cacat. Inilah yang paling membedakan antara CRP dan Cut Costs, yaitu bahwa bila pada CRP, pengurangan biaya diterapkan terhadap biaya-biaya yang ”seharusnya dihilangkan”, sedangkan pada Cut Costs, pengurangan biaya diterapkan terhadap biaya-biaya yang ”bisa (paling gampang) dikurangi”.

Berbagai jenis Quality Costs yang timbul dalam penciptaan suatu produk/jasa menjadi sekumpulan biaya-biaya yang tergabung dalam Total Quality Costs, dan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Prevention Costs yaitu biaya-biaya yang timbul karena adanya upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kegagalan pada desain produk/jasa. Misalnya, biaya review produk/jasa baru, perencanaan mutu, survey kehandalan supplier, evaluasi kemampuan proses (process capability evaluations), rapat-rapat Tim peningkatan mutu, proyek peningkatan mutu, pendidikan/pelatihan mutu.
  2. Appraisal Costs yang meliputi pengukuran, evaluasi atau audit produk/jasa untuk memastikan kesesuai-annya dengan mutu standar dan kinerja yang telah ditentukan. Hal ini mencakup biaya-biaya keperluan inspeksi/test terhadap pengadaan material, pengawasan saat proses berlangsung dan pada produk akhir, termasuk juga biaya kalibrasi alat-alat pengukur/test dan biaya-biaya yang berhubungan dengan supply dan material.
  3. Failure Costs, adalah biaya-biaya yang timbul sebagai hasil produksi yang tidak memenuhi standar atau tuntutan pelanggan. Failure Costs dapat dibedakan ke dalam dua kategori :
  • Internal Failure Costs yaitu biaya-biaya yang timbul pada saat pemeriksaan atau penanganan produk akhir, antara lain biaya pengerjaan ulang (rework), biaya inspeksi atau pengetesan ulang, biaya review material, biaya keterlambatan pengiriman dan lain sebagainya.
  • External Failure Costs yaitu biaya-biaya yang timbul pada saat produk/jasa sudah di tangan pelanggan/konsumen, misalnya biaya untuk menangani keluhan (complaints) pelanggan, biaya klaim garansi dan biaya retur produk.
  • Prakarsa dimulai oleh Manajemen Puncak dengan membentuk suatu Tim Manajerial sebagai penanggung jawab program ini, kepada mereka diminta untuk menciptakan suatu pedoman pelaksanaan CRP sebagai panduan yang akan diberikan kepada seluruh Jajaran Pimpinan di perusahaan tersebut.
  • Kemudian Tim CRP ini akan mengumpulkan data kinerja biaya-biaya perusahaan secara menyeluruh pada suatu periode terkini, dan mempresentasikannya di hadapan seluruh Jajaran Manajemen, agar mereka semua memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang kinerja biaya mutu yang ada di perusahaan di saat ini, dan dapat mengetahui mengapa perlu dicanangkan CRP. Kepada para Pimpinan tersebut diberikan pedoman pelaksanaan yang terstandar agar memudahkan dalam pengendalian kegiatannya kelak.
  • Selanjutnya masing-masing Pimpinan harus menindaklanjuti dengan mengevaluasi lebih mendalam tentang kinerja biaya di bagian yang dipimpinnya, untuk mendapat gambaran yang jelas, sektorsektor biaya mutu yang bisa dijadikan sasaran program pengurangan biaya.
  • Kemudian berlandaskan gambaran kinerja biaya di bagiannya tersebut, Pimpinan dapat mengkomunikasikan program ini kepada para pelaksana di bawah kepemimpinannya, sekaligus juga menginstruksikan mereka agar menindaklanjuti dengan pembentukan kelompok-kelompok atau Tim perbaikan mutu dengan tujuan utama melaksanakan pengurangan-pengurangan biaya melalui perbaikan sistem dan prosedur kerja.
  • Para Pimpinan inilah yang akan berperan sebagai ”Instruktur/Pembina” bagi karyawan bawahan untuk memberikan bimbingan/pendampingan, agar mereka mampu menjalankan program tersebut. Hal ini dapat di-tunjukkan dengan penyelenggaraan pertemuan rutin yang membahas tentang program ini.
  • Pimpinan secara tegas harus menetapkan besaran pencapaian terbaik di bagiannya yang ingin dicapai, dan tidak lupa menentukan tenggat waktu penyelesaian perbaikan, untuk menjamin keberhasilan yang optimal dalam waktu yang relatif singkat

Bila melihat pada stratifikasi biaya-biaya mutu tersebut di atas terlihat bahwa Prevention Costs dan Appraisal Costs lebih merupakan biaya yang diperlukan agar MUTU produk/jasa terjaga sejak awal proses, sedangkan Failure Costs adalah biaya-biaya yang semestinya tidak perlu ada, atau ”harus bisa dihilangkan”, bila semua komponen produksi dapat bekerja optimal dan efisien. Maka dapatlah dikatakan bahwa sasaran utama dari CRP adalah pengurangan semaksimal mungkin Failure Costs di dalam berbagai kegiatan perusahaan.

wihhh… rumit yah… jujur nih tambah bingung mbaca e.

semoga membantu aja… matur tengkyu

Iklan

3 thoughts on “CRP…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s